Pada penghujung tahun 2012 dunia diramaikan dengan isu kiamat yang diangkat oleh sekelompok orang tertentu. Ada yang percaya, ada yang tidak tergantung tingkat keimanan dan keilmuan seseorang. Tetapi secara umum manusia yang masih menikmati dunia tidak menginginkan itu segera terjadi, terbukti banyak upaya-upaya orang yang tidak beriman dan mengerti tentang kiamat membuat persiapan dengan berbagai cara agar dapat selamat bila kiamat benar terjadi.
Begitupun bagi para penganut kapitalis, mereka tidak menginginkan dunianya segera mengalami kiamat. Menurut Harun Yahya istilah kapitalisme berarti kekuasaan ada di tangan kapital, sistem ekonomi bebas tanpa batas yang didasarkan pada keuntungan, di mana masyarakat bersaing dalam batasan-batasan ini. Terdapat tiga unsur penting dalam kapitalisme: pengutamaan kepentingan pribadi (individualisme), persaingan (kompetisi) dan pengerukan kuntungan. Individualisme penting dalam kapitalisme, sebab manusia melihat diri mereka sendiri bukanlah sebagai bagian dari masyarakat, akan tetapi sebagai “individu-individu” yang sendirian dan harus berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. “Masyarakat kapitalis” adalah arena di mana para individu berkompetisi satu sama lain dalam kondisi yang sangat sengit dan kasar. Ini adalah arena pertarungan sebagaimana yang dijelaskan Darwin, di mana yang kuat akan tetap hidup, sedangkan yang lemah dan tak berdaya akan terinjak dan termusnahkan.
Dengan sebab ini, mentalitas kapitalis tidak merasakan adanya tanggung jawab moral atau hati nurani atas orang-orang yang terinjak di bawah kaki mereka, dan yang harus hidup dengan berbagai kesulitan. Ini adalah Darwinisme yang diterapkan secara menyeluruh pada masyarakat di bidang ekonomi. Para perumus Darwinisme Sosial terkemuka telah meletakkan dukungan “filosofis” dan “ilmiah” bagi kapitalisme. Misalnya, menurut Tille, sosok terkemuka yang mewakili mentalitas kapitalis-Darwinis, menyatakan bahwa adalah kesalahan besar untuk mencegah kemiskinan dengan memberikan bantuan atau pertolongan bagi “kelas-kelas yang tersingkirkan”, sebab ini berarti ikut campur dalam proses seleksi alam yang mendorong berlangsungnya evolusi.
Spencer, yang mendukung dan mempertahankan moralitas ini, menyelesaikan karyanya berjudul Social Statistics pada tahun 1850, dan menolak semua sistem bantuan (untuk masyarakat) yang diusulkan oleh negara, antisipasi bagi perlindungan terhadap kesehatan, sekolah-sekolah negeri, dan vaksinasi wajib. Sebab menurut Darwiniwme Sosial, tatanan masyarakat terbentuk dari prinsip bahwa yang kuat akan tetap bertahan hidup. Pemberian bantuan dan pemberdayaan bagi masyarakat lemah dan menjadikan mereka tetap bertahan hidup adalah pelanggaran terhadap prinsip ini. Yang kaya tetap kaya dikarenakan mereka lebih mampu bertahan hidup; sebagian bangsa menjajah bangsa lain, sebab bangsa-bangsa penjajah ini lebih cerdas dan unggul. Spencer bersiteguh menerapkan doktrin ini: “Jika mereka benar-benar layak untuk hidup, mereka akan hidup, dan sudah sebaiknya jika mereka harus hidup. Jika mereka benar-benar layak untuk mati, mereka akan mati, dan adalah paling baik jika mereka harus mati.”
Menurut Richard Hofstadter, penulis buku Social Darwinism in American Thought, juragan perkeretaapian, Chauncey Depew mengatakan bahwa orang-orang yang memiliki ketenaran, keberuntungan dan kekuasaan di kota New York mewakili mereka yang paling kuat dan layak untuk tetap bertahan hidup, melalui kecakapan mereka yang unggul, kemampuan berpikir ke depan dan kemampuan beradaptasi”. Baron kereta api yang lain, James J. Hill, mengatakan bahwa “keberuntungan perusahaan-perusahaan perkeretaapian ditentukan oleh hukum kemampuan bertahan hidup bagi yang layak dan kuat.”
Dalam artikel Darwin’s Three Mistakes, ilmuwan evolusioner Kenneth J. Hsü, membongkar pemikiran Darwinis kaum kapitalis Amerika, termasuk pernyataan Rockefeller yang menyatakan bahwa, “pertumbuhan bisnis besar hanyalah sekedar tentang kemampuan individu yang kuat untuk tetap bertahan hidup; hal tersebut hanyalah cara kerja hukum alam.” 
Sungguh sangat menarik bahwa di Amerika, lembaga-lembaga seperti Rockefeller Foundation dan the Carnegie Institution, yang didanai oleh para raja kapitalis seperti Rockefeller dan Carnegie, memberikan bantuan dana yang cukup besar untuk penelitian di bidang evolusi.
Sebagaimana telah dipahami dari apa yang telah diuraikan, kapitalisme telah menyeret manusia untuk menyembah hanya uang dan kekuatan yang bersumber dari uang. Dengan menganggap segala ajaran agama dan etika sebagai sesuatu yang tidak bermakna, masyarakat yang terpengaruh oleh gagasan evolusi mulai lebih mementingkan peranan dan kekuatan yang bersifat materi, dan terseret menjauhi perasaan seperti cinta, kasih sayang dan pengorbanan. Moralitas kapitalis ini telah menjadi sangat berpengaruh hampir di seluruh masyarakat masa kini. Dengan dalih ini, kaum miskin, lemah dan tak berdaya tidak diberikan bantuan serta perlindungan. Bahkan jika mereka terjangkiti penyakit parah dan mematikan, mereka tidak mampu mendapatkan siapa saja yang dapat membantu mengobati. Kaum papa diterlantarkan begitu saja dengan penyakitnya hingga meninggal. Di banyak negara, berbagai kedzaliman dan tindakan tak manusiawi seperti pemaksaan anak-anak secara kasar untuk bekerja dan perampasan hak-hak sosial sangatlah sering dijumpai.
Anehnya umat Islam yang memahami bahwa ajarannya adalah rahmatal lil alamin atau konsep at-ta’awun belum mau dengan 100% meninggalkan sistem ekonomi kapitalis dengan pengambilan bunga (riba) dan beralih ke sistem ekonomi syariah (bagi hasil). Padahal orang-orang di kalangan Yahudi melarang mempraktikkan pengambilan bunga, baik yang terdapat dalam kitab suci Old Testament (Perjanjian Lama) maupun undang-undang Talmud. Misalnya dalam kitab Exodus pasal 22 ayat 25, Kitab Deuteronomy pasal 23 ayat 19 dan Kitab Levicitus pasal 25 ayat 36-37. Dua ahli filsafat Yunani terkemuka, Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM), mengecam praktik bunga. Begitu juga dengan Cato (234-149 SM) dan Cicero (106-43 SM). Para ahli filsafat tersebut mengutuk orang-orang Romawi yang mempraktikkan pengambilan bunga. Begitupun di kalangan Kristen mengecam praktik pengambilan bunga seperti yang terdapat dalam Lukas 6 : 34-35. Pandangan para pendeta dan sarjana Kristen mulai abad I-XVIII pun menganggap bahwa bunga sama dengan perampokan (St. Anselm dari Centerbury tahun 1033-1109).
Barangkali sudah tidak ada lagi alasan yang meragukan sistem ekonomi Islam untuk diterapkan dalam kehidupan berekonomi kita atau beranggapan bahwa Islam menghambat kemajuan dengan adanya pembatasan melalui nilai-nilai atau norma-norma. Beberapa pendapat tentang ekonomi Islam diantanya; ”Ekonomi Islam adalah ilmu sosial yang mempelajari masalah ekonomi masyarakat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam (Mannan). Ekonomi Islam adalah suatu upaya yang sistematik untuk memahami masalah ekonomi dan perilaku masyarakat, dalam perspektif Islam (Khurshid Ahmad). Ekonomi Islam adalah tanggapan para pemikir muslim atas berbagai tantangan ekonomi. Dalam hal ini didasarkan pada Quran dan Sunnah disamping alasan dan pengalaman (N.Siddiqi)). Ekonomi Islam adalah suatu ilmu dan penerapan hukum syariah yang melindungi ketidakadilan dalam kaitan dengan upaya pencapaian kesejahtaeraan manusia dan pelaksanaan ibadah kepada Alloh SWT (Hasanuz Zaman).
Tugas besar bagi kita adalah menyakini bahwa ekonomi bagian dari ibadah sosial (muamalah) yang harus diamalkan. Kedudukannya sama dengan ibadah ritual, jangankan meninggalkannya tidak meyakini kebenarnya saja sudah dosa. Bagi kita bukan hanya untuk mendapatkan keuntungan dari kelebihan sistem ekonomi Islam, sebagaimana yang telah diterapkan beberapa Negara nonmuslim seperti Swis membuktikan dengan menerapkan sistem ekonomi Islam lebih menguntungkan.
Kiamat Kubro tidak ada satu makhluk pun yang tahu dan tidak bisa dipastikan dengan daya nalar atau ilmiah. Tapi kiamat bagi kapitalisme itu bisa dipastikan atau di-planning sebagaimana yang pernah terjadi pada jaman keemasan Khalifah Umar bin Khatab dan sesudahnya. Tinggal bagaimana kita merubah mindset para pelaku ekonomi dan menerapkannya pada sebuah sistem.
APAN EPENDI, SEI
Alumni Ekonomi Islam Universitas Siliwangi Tasikmalaya
(Pemerhati Ekonomi Islam)

Tinggalkan Balasan