Hidup adalah pilihan. Kita lah yang menentukan pilihan itu dan yang menjalankannya. Tapi tidak selamanya pilihan kita adalah yang terbaik. Terkadang Lingkungan bisa menjadi penentu hidup kita juga. Jadi pada intinya Hidup Kita adalah pilihan kita yang harus kita jalankan dengan dukungan juga dari lingkungan.
Satu hal penting di dalam hidup kita adalah adanya sumber pendapatan sebagai sarat utama untuk memenuhi kebutuhan kita sebagai manusia. di sini juga ada berbagai pilihan yang bisa kita tempuh. membuka lapangan kerja sendiri atau menjadi pekerja di orang lain/Pekerja/Buruh. Apapun pilihan kita, itu hanyalah sebuah proses, proses untuk mendapatkan apa yang kita harapkan untuk berpenghasilan/mendapatkan hal untuk memenuhi kebutuhan kita, sedangkan penentunya adalah Takdir, Kekuasaan dari Yang Maha Pemberi Rizki.
Ketika kita membuka lapangan kerja sendiri, segala sesuatunya kita lah yang menentukan, jenis usaha, strategi, tekhnik, sampai ke masalah permodalan dan lain sebagainya. Berbeda dengan ketika kita menjadi pekerja di orang lain banyak sekali Problematika Pekerja  dalam ketenagakerjaan. Penghasilan kita ditentukan oleh banyak faktor pendukung yang intinya antara lain :
  • Prestasi Kerja kita Sendiri
Secara teori prestasi kita lah yang akan menjadi dasar penentuan penghasilan kerja kita ketika bekerja di orang lain. namun itu tidak mutlak. adakalanya ketika kita berprestasi di dalam bekerja malah dijadikan alat untuk memanfaatkan kita untuk kepentingan perusahaan tanpa mendapatkan reward/penghargaan yang seimbang dengan apa yang sudah kita kerjakan. Sebagian ada yang berdalih ‘Loyalitas’. Terlebih lagi ketika datang pihak ketiga yang mencoba menutupi prestasi kerja kita dengan mencari celah kesalahan kita. untuk menjatuhkan kita demi kepentingan dia sendiri. Banyak hal yang merongrong kita di dalam bekerja terutama ketakutan kita akan yang namanya PHK, sehingga makin melemahkan nilai Pekerja dibanding Pengusaha
  • Kebijakan orang yang mempekerjakan kita/Majikan/Pengusaha
Sudah barang tentu pengusaha menjadi faktor yang sangat dominan di dalam proses ini, karena pengusaha lah yang mempunyai ‘Uang’. Prinsip Ekonomi adalah memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya. Susahnya lapangan kerja bisa menjadi alasan utama sehingga Pengusaha memiliki nilai yang lebih tinggi daripada pekerja nya, walaupun pada dasarnya hubungan antara Pekerja dan Pengusaha adalah hubungan ‘mutualisme’ dalam artian saling membutuhkan. Pengusaha tanpa pekerja, ataupun pekerja tanpa pengusaha bukan apa-apa. Untuk menjaga agar simbiosis mutualisme ini tetap berjalan dengan baik maka di sinilah kita membutuhkan mediator yang sudah barang tentu bersikap netral terhadap kepentingan Pekerja dan Pengusaha
  • Penguasa/Pemerintah melalui kebijakan-kebijakan di dalam peraturan Perundang-undangan
Inilah yang seharusnya bisa menjadi mediator yang netral dalam simbiosis mutualisme antara Pekerja dan Pengusaha. Namun sayang seribu kali sayang, lebih tingginya nilai pengusaha dibanding pekerja membuat kondisi jadi lain. Minimnya lowongan pekerjaan dan kebutuhan pemenuhan anggaran belanja penguasa menjadikan nilai antara Pekerja dan Pengusaha tidak sejajar lagi. Sehingga berdampak terhadap Peran Pemerintah dalam Ketenagakerjaan tidak optimal. Kebijakan – kebijakan Penguasa dalam menghasilkan Peraturan – Peraturan Ketenagakerjaan dan ketegasan di dalam kontroling pelaksanaan Peraturan – peraturan yang telah ada.
Terlepas dari semua permasalahan tersebut, Kebutuhan tetaplah kebutuhan sehingga kita tetap harus mempertahankan hidup kita untuk kita sendiri dan keluarga tentunya. Sehingga kita tetap perlu mempertahankan daya tawar kita sebagai Pekerja terhadap Pengusaha dan Penguasa dengan :
  1. Tetap melaksanakan kewajiban kita sebagai Pekerja.
  2. Memahami Perundang – undangan Ketenagakerjaan yang ada.
  3. Menjalin Silaturahmi dengan pekerja lainnya dalam wadah Serikat Pekerja
Banyak Pekerja yang takut untuk bergabung dalam wadah Serikat Pekerja karena berbagai ancaman dari mulai PHK, Mutasi, Penurunan Jabatan dll. Kenapa demikian???
Jawabannya simple dan rasional. Ketika pekerja berorganisasi/berserikat itu akan menjadi kekuatan yang sangat besar dan akan mampu melawan kekuatan apapun. Sehingga banyak pihak yang tidak menginginkan hal ini.
Jangan takut untuk berorganisasi/ berserikat di dalam Serikat Pekerja, Karena masalah Serikat Pekerja sudah dipayungi Undang – Undang, dan Apabila ada ancaman – ancaman yang terjadi terhadap pekerja dalam berorganisasi/berserikat, itu bisa dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Dan dianggap sebagai tindak pidana kejahatan
Tujuan utama serikat bagi buruh/pekerja yaitu :
  • Menciptakan suasana kerja yang sehat dan kondusif.
  • Membela dan memperjuangkan hak-hak para buruh/pekerja agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pihak pengusaha.
  • Agar buruh/pekerja merasa adil dan sejahtera.
Maka secara umum serikat buruh/pekerja mempunyai peranan dan fungsi sebagai berikut:
  • Melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh/pekerja
  • Menyalurkan aspirasi buruh/pekerja
  • Mewakili buruh/pekerja dalam suatu perselisihan 
  • Melakukan perundingan dengan pihak perusahaan 
  • Menumbuhkan kesadaran berserikat dikalangan buruh/pekerja
  • Menciptakan iklim kerja yang sehat dan kondusif di perusaaan
  • Menampung iuran dari anggota dan memanfaatkannya untuk keperluan pengembangan organisasi
Penulis bukanlah seseorang yang sempurna tapi mudah – mudahan catatan sederhana ini bisa bermanfaat untuk kita sebagai pekerja…..
Amien…..

Layanan Pengaduan dan Informasi Pekerja Kota Tasikmalaya melalui layanan sms ke 085222967769

Tinggalkan Balasan